Sarah Gumelar is a Jakarta-based artist.
"Sarah Gumelar, adalah seorang pelukis yang juga aktivis koalisi perempuan. Sehingga karyanyapun mencerminkan kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan sosial dinegeri ini." -- Poppy Drew-Liem (artist and artist agent)
From an exhibition catalogue at One Gallery (Jakarta):

Gedung DPR/MPR dilihatnya sebagi "kuburan cita-cita rakyat kecil". mantan guru gambar SD Sang Timum, Eiledug ini melihat, rezim orde baru telah nemjual habis hampir seluruh kekayaan rakyat Indonesia. Minyak; gas-bumi; kayu; emas dan berbagai tambang lainnya, bahkan manusia. Negeri kaya ini digerogoti habis oleh korupis. Naluri ibu tiga anak ini mangatakan: "yang tersisa bagi anak cucu kita hanya tumpukan hutang luar negeri setinni langit."
Pelukis yang juga aktivis Koalisi Perempuan ini memandang, Habibi tak cukup kuat meneruskan orde baru. Tetapi Gus dur tak kuat melawan orde baru, yang sampai hari ini mewariskan kemiskinan, kebodohan dan ketidak adilan-sosial bagi seluruh rakyat. "Selama masih ada ketidak adilan, aku ankan terus melukis!" kata perempuan yang 3 September ini merayakan ulangtakunnya ke 40.
From Cynthia Webb...
I very much enjoyed meeting Sarah Gumelar (and also her husband -- a painter too) at "One Gallery" a few months ago (2002). Sarah's paintings were all very impressive and exciting to me. Her work was among the work of nine women artists being exhibited. She is one of the few women in Indonesia, whose work shows strong political commentary. She is a very intelligent artist. Her passionate concern for political and social issues, and particularly the situation of women and children in Indonesian society today, were the themes of all her works in the interesting at "One Gallery".
|

(Photo by Cynthia Webb, 2002)
(Photo by Poppy Drew-Liem) |