Bahasa Indonesia:
Anak ke enam dari pasangan Marsini dan Ostenrik Tjitrosunarjo, seorang anggota polisi negara. Yang kemudian dipindah tugaskan ke Makasar selama 5 tahun. Dimana Teguh masih mendapat 2 sisters dan 1 brother.
Keluarga besar dengan sembilan anak ini masih berpindah-pindah kota lagi, dari Makasar ke Surabaya, Kupang, Balikpapan dan kemudian ke Semarang. Setelah peristiwa G30S 1965, Ayah Teguh di pindah ke Jakarta. Teguh masih tinggal di Semarang, menyelesaikan ujian SMP nya dan kemudian melanjutkan SMA nya di Solo selama 3 tahun. Setelah menyelesaikan SMA di ST. Joseph Solo, ia masuk ke Fakultas Kedokteran Trisakti, Jakarta. Kuliah Kedokterannya di tinggalkan pada tahun kedua, karena memang Teguh tidak merasakan panggilan jiwanya di ilmu kedokteran tersebut.
Diam-diam ia memutuskan untuk pergi ke Jerman, agar bisa melanjutkan studinya di jurusan ilmu yang jauh berbeda, yaitu seni rupa. 1971 ia mulai berkoresponden dengan sahabatnya di SMA dahulu, Robert Gunawan, yang pada saat itu sudah berada di Aachen. Dan akhirnya tahun 1972 bulan November, Teguh berangkat dengan one way ticket ke Munich, Jerman Barat. Di luar kota Munich, Am Walchensee, ia belajar bahasa Jerman selama 3 Minggu, dan tidak krasan. Lalu pergi ke Berlin Barat, untuk melanjutkan kursus bahasa jermannya, sambil mencari kerja sampingan di restaurant Bali, sebagai tukang cuci piring.
Biaya hidup di Jerman di dapatkan dari part time job, selama studi.
1973, Teguh mencoba ujian masuk di Hochschule der Kunste Berlin, gagal. Lalu sebagai upaya agar dia tetap mendapatkan ijin tinggal, maka ia daftar sekolah graphik design di Lette Schule. Sambil mempersiapkan diri, menghadapi ujian masuk lagi di Hochschule der Kunste, yang dilakukannya sampai empat kali. Achirnya tahun 1974, Teguh diterima di bagian Seni rupa murni pada HdK Berlin. Di mana Teguh pada tahun 1980 berhasil meraih gelar Meisterschüler di bawah bimbingan Prof. Hermann Bachman. 1980, sebelum ujian achir, Teguh telah membuat pameran tunggalnya mengenai Homo sapiens bertopeng di Dahlem Museum, West Berlin.
Sebagai mahasiswa seni rupa, ia mulai mencari kesempatan berpameran. Misalnya1977 di Galerie Am Parkhaus, West Berlin atau 1979 di Schöneberger Werkstatt Galerie, West Berlin Tahun 1980, sebelum penyelesaian ujian Meisterschüller, Teguh memaerkan karya-karyanya di Hochschüle Der Kunste, West Berlin
- 1980 Mitra Budaya, Jakarta
- 1981Galerie Für Kunst Aus Südostasien, Hamburg
- Galerie Lichtstudio an Der Oper, West Berlin
1981, Teguh traveling to NY, ikut dalam Faust patchwork projectnya Ann Wilson, membuat 1600 subway sketses dan kemudian pindah ke Amsterdam. Di sana dia sempat berbagi studio dengan Sebastian Holhuber, seniman dari Wina. 1981, Teguh berpameran tunggal di Gallery Frederic - Amsterdam. 1982 Teguh pindah ke Köln-Jerman. Disana iamulai berhubungan dengan Donata Dengler, yang padatahun 1982 mendapatkan anak laki-laki, bernama Lovis dan 1984 seorang anak perempuan bernama Celine. Setelah perpisahannya dengan DD, Teguh berkenalan dengan Kathrin Rudolph, dan hidup bersamanya selama 4,5 tahun. Di Köln Teguh aktif bersama beberapa teman seniman lokal dalam beberapa pameran dan performance art. Ikut dalam pertunjukkan tari dengan Robert Salomon dan Mathias Von Welck. Teguh selama hampir lima tahun mengajar Slow motion movement kepada grup Living Dolls.
- 1983 Galerie Janine Mautsch, Köln
- 1984 Werkstatt Galerie Eupenerstrasse, Aachen
- Erasmus Huis in associate with Goethe Institut, Jakarta
- Galerie Manfred Rieker, Heilbronn
- 1986”Crest Kunst” Sulpiz Boisseree Art Consulting, Köln
1988 Teguh pulang ke Jakarta, danmenetap hingga sekarang. Selama hampir lima tahun Teguh menjalin hubungan dengan Restu Imansari K. Bersama-sama membangun C-LINE Gallery. 1993 kembali perpisahan terjadi, dan kemudian tahun 1994 menikahi Pincky Sudarman, teman lamanya sejak di bangku SMA 1969. Teguh kemudian (1995) mengubah nama C-LINE Gallery menjadi Galeri Teguh. With full support of his Wife Pincky, Teguh tetap berpameran, membuat beberapa stage design, Karya-karya instalasi di beberpa kota. Pameran di Hong Kong dan beberapa kota di Eropa. 1997, Teguh berkenalan dengan DR. Barbara Asboth, yang kemudian mulai bekerja bersama Teguh setiap hari 2 jam. Tujuan awal dari pada kerjasama ini sebenarnya hanya membuat katalogisasi karya-karya Teguh. Tetapi, berhubung tahun 2000 pasti akan tiba, Pincky dan Teguh akan mengancik usia 50 tahun, maka mereka memutuskan katalogisasi itu di kembangkan menjadi sebuah buku. Sejak empat tahun terachir, Teguh banyak bekerja sama dengan arsitek, interior designer. Beberapa karyanya terpajang di gedung-gedung penting di Jakarta dan Bali. |

CV - English
- 1950 Born in Jakarta
- 1972 Graphic Design, Lette Schüle, West Berlin, Germany
- 1974 Fine Art, Hochschule der Künste
- 1980 Meisterschüler under Prof. H. Bachmann, Hochschule der Künste, West Berlin
- 1981 Worked at Art Drawings Studio, Amsterdam
- 1984 Comparative Art Study in Indonesia
- 1988 Returned to Jakarta
- 1989-1994 Owner of C-LINE GALLERY, Jakarta
- 1995 - present Owner of Galeri Teguh, Jakarta
INDIVIDUAL EXHIBITIONS
- 1977 Galerie Am Parkhaus, West Berlin
- 1979 Schöneberger Werkstatt Galerie, West Berlin
- Hochschule der Künste, West Berlin
- 1980 Dahlem Museum, West Berlin
- Mitra Budaya, Jakarta
- 1981 Galerie Für Kunst Aus Südostasien, Hamburg
- Galerie Frederic, Amsterdam
- Galerie Lichtstudio an der Oper, West Berlin
- 1983 Galerie Janine Mautsch, Köln
- 1984 Werkstatt Galerie Eupenerstrasse, Aachen
- Erasmus Huis in association with Goethe Institut, Jakarta
- Galerie Manfred Rieker, Heilbronn
- 1986 ”Crest Kunst” Sulpiz Boisseree Art Consulting, Köln
- 1987 ”UNGERAHMT”, Atellier Teguh Ostenrik, Köln
- 1988 Embassy of The Federal Republic of Germany, Jakarta
- 1988 ”The Under Water World”, Gedung Pameran Seni Rupa, Depdikbud, Jakarta
- 1989 ”The Masked Homo Sapiens”, Taman Ismail Marzuki, Jakarta
- 1991 “Amsterdam 81” C-LINE GALLERY, Jakarta
- 1994 ”Plastic Waste Pyramid”, Munduk, Bali
- 1995 “Teguh Ostenrik 1976-1995” Galeri Teguh, Jakarta
- Dans Paris 1995” Galeri Teguh, Jakarta
- “Homo Sapiens”- LKF Gallery, Hong Kong
- “Dans Paris” CCCL, Surabaya
- 1996 “Dans Paris” Cemeti Gallery, Yogyakarta
- 1998 “In Morpheus Armen” Klinik am Ring. Koeln
- 1999 “On Sale” Video Installation, simultaneous at CCF, Erasmus Huis – Jakarta, LIP Yogjakarta and CCCL Surabaya
- “Homosapiens” Ganesha Gallery, Four Season's Resort Jimbaran, Bali
- 2000 " Menembus Batas (Grenzüberwindung), Goethe Institut. Jakarta
- "Amsterdam " Flying Horizon, Erasmus Huis - Jakarta
GROUP EXHIBITIONS
- 1976, '77, '78 FBK, West Berlin
- 1979 Kunstverein Des Kartelamtes, West Berlin
- Kunstverein Schering A.G, West Berlin
- “Mensch und Maske”, Kunstamt Schöneberg, West Berlin
- Paintingsburning, Kunstamt Schöneberg, West Berlin
- Ceramic, Mitra Budaya, Jakarta
- 1982 “Kontraste - 4 Zeichner aus 4 Nationen”, Galerie Hachmeister,Münster
- 1985 Münchener Kunstverein, München
- 1987 “Mit Adem Yilmaz”, Sulpiz Boisseree Art Consulting, Köln
- 1990 “Sumbu Utara Selatan”, with Tadayuki Iyama, The Japan
- Foundation-C-Line Gallery- Sampoerna Bank, Jakarta
- 1991 “Noktah” with Astari Rasjid, Dolorosa Sinaga, The Arts Club, Washington, D.C.
- 1992 “Nouvelle Abstraction” Galerie Damien Boquet, La Baule
- 1994The VIII Triennale-India International Art, New Delhi
- The Jakarta International Fine Arts Exhibition- Shangri La Hotel, Jakarta
- 1995 “Seven Asian Artists” - Gallery 7, Hong Kong
- Indonesian Contemporary Art Exhibition - Taman Ismail Marzuki, Jakarta
- Multi Media Tower “Cermin Kemerdekaan” with Alex Dea, Taman Budaya Solo
- Multi Media Tower “Cermin Kemerdekaan” with Alex Dea - Taman Ismail Marzuki - Jakarta
- 1996 Bienalle X - Taman Ismail Marzuki, Jakarta
- 1997 “(HE) ART” Galeri Teguh, Jakarta
- “Tanda Api“ Video Art - Galeri Ardiyanto, Yogyakarta
- “Tanda Api“ Video Art - Galeri Teguh, Jakarta
- 1998 “Senjang” Video Art - Galeri Teguh, Jakarta
- “Senjang” Video Art – LIP,Yogyakarta
- “Senjang” Video Art – CCCL, Surabaya
- 1999 " Re (eching) the Roots" Video Art - Erasmus Huis - Jakarta
PERFORMANCES
- 1978 ”Maske” - Musik Gutama - Sommerfestspiele, West Berlin
- 1979 ”Endmaskierung” Hochshule Der Kunste, West Berlin
- 1980 ”Tari” - Musik Gutama, Museum Dahlem, West Berlin
- 1981 “The Faust Project” with Ann Wilson Patchworks Inc., New York
- 1982 “Sei Leise Nippes”, Köln
- 1987 “Music In Movements” with Robert Solomon, Köln
- ”Naro”, Bonn
- 1990 - presentArt & Stage Directing : Gumarang Sakti Dance Company, Jakarta
- 1993 ”Suita” Festival Musik Kontemporer, Jakarta
- “Paris Jakarta Masa 1950-1960”, Jakarta
- "Abad - Abad Nan Sakti - Boi G Sakti - Teater Arena TIM - Jakarta
- “Panji Sepuh”- Taman Ismail Marzuki, Jakarta
- 1994 ”Manggon” Alex Dea, - Taman Budaya Solo - Solo
- Suprapto & Slamet Abdul Syukur, Nur Gora Rupa, Solo
- 1996 “Lalu” with Linda Hoemar & Tonny Prabowo - TIM, Jakarta
- 1997 Gumarang Sakti - Kalang Theatre, Singapore
- New Jakarta Ensemble - Taman Ismail Marzuki. Jakarta
- “Perjalanan 20 Detik” Farida Utoyo, - Gedung Kesenian Jakarta - Jakarta
- "Lalubay" Yudistira Syuman - Gedung Kesenian Jakarta - Jakarta
- 2000 "Stretching the Voice" - Tony Prabow
- "Invisible Sketches " - Yudistira Syuman, Kreativitat Dance Indonesia - Gedung Kesenian Jakarta
CHOREOGRAPHY
- 2000 "Biarkan Mereka Menjamah Langit " - Teguh Ostenrik - Gedung Kesenian Jakarta - Jakarta
Commissioned works & corporate collections
- Dahlem Museum (Berlin, Germany)
- PT. Sampoerna Bank (Jakarta)
- Bank Universal (Jakarta)
- Lippo Bank Jakarta
- Fukuoka Art Museum (Japan)
- Hotel Papandayan (Bandung)
- Melia Panorama (Batam)
- Sol Inn Legian (Bali)
- Sol Paradiso Hotel (Kuta, Bali)
- Sime-Darby Apartments (Singapore)
- The Legian Hotel, (Bali)
- Tropic Apartments (Jakarta)
- Four Season Apartments (Jakarta)
- Graha Kirana (Jakarta)
- Quantum Health Club (Jakarta)
- Borobudur Intercontinental Hotel (Jakarta)
- Jakarta Stock Exchange
- Menara Kadin (Jakarta)
- Darmawangsa Hotel (Jakarta)
- ASEAN Secretariat Building (Jakarta)
- Klinik Am Ring (Koeln, Germany)
|