Pameran Struggle and Creation
Perjuangan Seniman Muda Mengatasi Dua Dimensi
f dewi ria utari, 5 Juli 2002
Shawnee's profile and works
JAKARTA -- Sebuah pameran yang mengeksplorasi pencarian bentuk dan kreativitas eksperimentasi tengah diadakan di Erasmus Huis, 20 Juni-12 Juli. Pameran yang terselenggara dalam rangka JakArt@2002 ini diisi karya-karya mutakhir enam pelukis Jakarta dan enam pelukis Yogyakarta dengan total karya 38 buah. Mengangkat judul Struggle and Creation, eksperimentasi keduabelas seniman ini memang terlihat masih struggle (berjuang) untuk membebaskan diri dari batasan dua dimensi.
Pertemuan antara dua kubu, Jakarta dan Yogyakarta, dalam pameran ini menarik untuk disimak, setidaknya mengamati perkembangan mutakhir seniman-seniman muda dua kota tersebut. Seperti biasa, Yogyakarta didominasi perupa dari Insititut Seni Indonesia (ISI). Mereka adalah Taufan AP, Lelyana, Nadiyah Tunnikmah, Mochammad Yusuf, Lashita Situmorang, dan Arya Panjalu. Sementara dari Jakarta latar belakang para senimannya cukup beragam, tak hanya berasal dari Institut Kesenian Jakarta. Mereka adalah Zaira Adilla, Hary Purnomo (Ponk-Q), Renjani, Hafid A.S. Meliala, Shawnee Puti, dan Awan P. Simatupang.
Kendati masih terikat pada media dua dimensi, tak terlihat kecenderungan para seniman ini terjebak dalam satu gaya. Taufan terlihat mengeskplorasi gaya-gaya naif dalam lukisannya. Ketertarikannya untuk mencemplungkan berbagai obyek dengan proporsi yang seenaknya, menjadikan karyanya menyerupai lukisan anak-anak, kekhasan yang seolah sudah dicitrakan pada pelukis perempuan Erika.
Untuk sebagian besar perupa perempuan, figur atau isu tentang perempuan banyak dieksplorasi. Lelyana, mahasiswi Kriya Keramik ISI Yogyakarta, menyindir iklim patriarkis dengan menempatkan figur perempuan dalam porsi besar dalam Be or Not to be Human. Karya ini seolah menggambarkan usaha perempuan untuk diakui menjadi manusia.
Sementara Renjani juga melukiskan figur perempuan tengah menundul memegang hio di bawah siraman lampion dalam Gong Xi Fa Cay. Shawnee Puti, yang berlatar belakang pendidikan patung dan drawing di The New School New York, banyak menuangkan bentuk-bentuk abstrak totem dengan figur menyerupai perempuan dalam lukisannya. Ia melukiskannya dengan goresan tebal dan besar.
Kecenderungan yang bisa diamati di pameran ini adalah masih lekatnya para perupa muda untuk terlibat dalam goresan-goresan yang membentuk figur yang masih dikenali. Selain Shawnee, keinginan untuk mengeksplorasi bentuk abstrak bisa dilihat pada karya-karya Zaira Adilla dan Lashita Situmorang.
Satu hal yang menarik di pameran ini bisa diamati di karya Awan P. Simatupang. Empat karyanya dibuat dengan bubur kertas sehingga membentuk figur-figur yang timbul di atas kanvasnya. Efek ini menjadikan karyanya menjadi lebih hidup. Obyek-obyek Awan juga terkesan lebih nakal dan main-main. Lihatlah dalam karya Perjalanan. Karya itu seolah mengantar kita untuk ikut serta di dalam mobil seorang pria yang tengah berkendara dengan anjing dalmatian dan sebuah kotak di belakangnya.
Memang keseluruhan karya ini belum bisa mewakili perkembangan seni rupa mutakhir para perupa muda. Enam seniman untuk mewakili masing-masing kota, belumlah cukup untuk dijadikan tolak ukur. Tapi pameran ini setidaknya bisa menjadi pengantar untuk memasuki lebih dalam kecenderungan yang terjadi di tubuh seni rupa saat ini.