| BALI POST MINGGU 30 Dec. 2001
I Made Wiradana, Deklarator ''Deklarasi Akhir 2001''
Saya Ingin Buktikan, Sanggar Dewata tidak Mandek
Sepintas pelukis ini terkesan kalem, tidak banyak bicara, bahkan pendiam.
Kesan itu di masa lalu memang banyak benarnya. Karya-karyanya pun tak banyak
''bicara''. Saat itu I Made Wiradana memang lebih banyak melukis figur-figur
primitif yang menghadirkan ketenangan dan peradaban manusia masa lampau.
Namun, sekarang, jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga
Ketua Sanggar Dewata Indonesia ini seakan ''memuntahkan'' semua gejolak yang
meledak-ledak di dadanya ke dalam karya-karya yang banyak mewacanakan
fenomena kekinian. Bahkan, Sabtu (29/12) kemarin malam, Wiradana
''mengibarkan'' bendera dengan menyampaikan sikap berkeseniannya yang diberi
judul ''Deklarasi Akhir 2001'' di Museum ARMA Ubud. Deklarasi sekaligus
menandai pembukaan pameran tunggalnya ini memang banyak mengundang
pertanyaan dan diskusi. Tak hanya seniman yang merasa ''terperanjat'' dengan
sikap pelukis kelahiran Denpasar tahun 1968 ini, pengamat seni pun
berdatangan menyaksikan perhelatan akbar seniman muda ini. Mengapa Wiradana
''senekat'' itu? Apa yang mendasari dia berani ''menambung genderang''?
Simak perbincangan Bali Post dan Global FM Bali dengannya berikut ini.
APA yang mendasari Anda menutup tahun ini dengan ''Deklarasi Akhir 2001''
yang tampaknya akan menjadi catatan sangat penting dunia seni rupa kita?
Pertama karena saya dipilih sebagai Ketua Sanggar Dewata, saya ingin
membuktikan diri bahwa saya mampu memimpin pelukis-pelukis yang sudah senior
seperti Nyoman Gunarsa, Made Djirna, Nyoman Erawan, dan lain-lain. Saya tak
ingin ada yang bilang bahwa saya hanya sebagai boneka di sana. Makanya, dari
sini saya berbenah diri bahwa saya mempunyai kredibilitas terhadap sanggar
itu sendiri. Dari situ saya mulai berdiskusi. Sebelum ini saya juga sempat
shock karena saya baru menjabat sebagai Ketua Sanggar Dewata kurang lebih
satu minggu sudah diteror anggota Kamasra STSI Denpasar dengan menuding
Sanggar Dewata itu sudah mandek, menghegomoni, dan seterusnya. Saya ingin
menjawab itu sebenarnya. Saya ingin buktikan bahwa di dalam tubuh Sanggar
Dewata masih ada denyut untuk bersaing dalam seni lukis kita.
Berapa lama Anda mempersiapkan diri hingga akhirnya bisa memunculkan diri
dengan ''Deklarasi Akhir 2001'' ini?
Ya, kurang lebih tiga bulan. Dari saat itu, kesadaran saya untuk berdiskusi
mulai tumbuh lebih dari enam bulan yang lalu. Padahal saya suduh kenal
dengan Putu Gede Djaja (teman diskusi Wiradana, red) lebih dari setahun
karena saya tahu beliau memiliki pengetahuan art history yang begitu luar
biasa. Akhirnya saya mendatangi beliau dan saya berbincang-bincang di sana
mengenai bagaimana caranya menanggulangi masalah ini. Karena saya memimpin
sanggar yang luar biasa, sedangkan saya masih sangat muda dan kurang
berpengalaman. Akhirnya beliau memberikan masukan, mencuci otak saya, dikasi
buku yang banyak, dan saya lakukan setiap hari, siang dan malam. Lantas saya
menemukan bahwa seni lukis itu tidak sebatas sampai pada lukisan, kita harus
tidak hanya cakap secara teknis. Seorang pelukis juga harus menunjukkan
intelektual sebagai seorang kreator seni.
Jadi, sebetulnya ini adalah hasil dari sebuah pergulatan Anda berdiskusi
dengan teman-teman seperti Putu Gede Djaja, Wayan Sumantra dan lainnya.
Seperti apa sih diskusinya itu? Apakah sebatas mendiskusikan seni rupa atau
juga menyinggung masalah resesi ekonomi, politik, atau lainnya?
Ya, pertama masalah seni rupa itu sendiri. Karena yang kita tuju, ya seni
rupa itu. Maka, di sana saya intens sekali melakukan diskusi-diskusi seni,
selain dibuka wawasan mengenai bagaimana seni rupa modern Barat itu,
bagaimana proses kubisme itu, bagaimana Picasso menjadi populer, bagaimana
kehidupan Van Gogh. Di sana saya menjadi tertarik. Bahwa menjadi seniman itu
perlu tantangan. Bahwa orang itu tidak langsung jadi besar, ada proses,
seperti bagaimana seorang Picasso bisa besar ya karena konsep-konsepnya, di
mana dia mengambil patung-patung Timur dijadikan ''materi'' lukisannya. Dan
bagaimana kehidupan Van Gogh berteman dengan Gogan. Padahal mereka satu
kamar, tetapi kalau ia melukis idenya bisa lain seperti Van Gogh main ke
kafe karena ada botol bir dia main ke kafe. Kalau Gogan itu lain, justru
karena ada cewek ia main ke kafe. Jadilah kalau Gogan melukis mestilah ada
cewek-ceweknya, sedangkan kalau Van Gogh, karena tertarik dengan botol,
akhirnya membikin botol saja.
Di samping berdiskusi, saya diajak mengenali kehidupan-kehidupan yang
aneh-aneh. Misalnya saya diajak ke Jakarta untuk melihat bagaimana kehidupan
orang yang paling kaya sampai orang yang paling miskin, sehingga otak saya
jadi berputar. Bahwa hidup kita ini tidak sebatas, ya seperti di Jalan Ratna
ini (rumah Wiradana, red). Kita tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, kalau kita
keluar, masih banyak yang bisa kita lihat, gitu lho.
Dalam lukisan Anda, kan ada berjudul ''Mandi Susu''. Apa Anda juga pernah
masuk ke tempat mandi susu?
Ya, benar sekali. Saya sendiri melalukan itu. Saya ke sana diantar, saya
mandi susulah. Bahwa ini kehidupan orang. Saya pingin tahu aja, bagaimana
kok sekarang ada tren orang mandi sauna, mandi susu itu. Tapi, sewaktu saya
mandi di sana, saya ingat pada waktu saya diajak Pak Putu Djaja ke tempat
orang-orang miskin, gitu lho. Di satu sisi kita mandi susu di mana
berkaleng-kaleng susu kita pakai mandi dalam satu bak, di sisi lain orang
membeli susu satu kaleng pun tak mampu. Ini kan ironis sekali. Di sana kita
berpikir bahwa kehidupan sekarang ini banyak ketimpangan.
Jadi, lukisan-lukisan Anda itu bukan sekadar memperlihatkan bahwa Anda
pernah mandi susu, tapi Anda ingin menyampaikan sesuatu di balik lukisan
itu?
Ya, hanya menyampaikan pesan saja bahwa di era modern ini kita tidak bisa
hidup dengan bergelimangan seperti itu. Karena di satu sisi ada masyarakat
yang mengeluh, kehidupan begitu terpinggir. Saya ingin menyampaikan kepada
masyarakat bahwa ketimpangan sosial itu justru bisa menjadi bumerang bagi
perkembangan kehidupan bermasyarakat.
Dalam arti, lukisan Anda tidak bisa dibaca hanya sebatas permukaan?
Ya, karena ini ada multitafsirlah. Tergantung orang menafsirkan bagaimana
lukisan saya itu. Dan ini tidak bisa dibaca langsung. Di dalamnya ada
pesan-pesan, begitu lho.
Kembali pada hubungan Anda dengan teman diskusi Anda sepertri Putu Djaja,
seberapa besar sebenarnya hasil diskusi itu mempengaruhi karya Anda?
Ya, itu besar sekali. Pak Putu punya konsep-konsep. Kadang-kadang dia juga
punya konsep, tetapi belum tentu bisa diwujudkan oleh seniman itu sendiri.
Karena itu, kadang-kadang harus ada seniman yang mampu menjalankan
konsep-konsepnya itu. Sudah dari setahun Pak Putu pingin ketemu dengan saya,
dari cara ia pernah membeli satu lukisan saya judulnya "Sesari" . Dari sana
ia tertarik karena saya ini cuwek. Akhirnya, ia datang ke rumah dan pertama
kali ia datang, ia justru mengejek lukisan saya, gitu lho. Saya marah sekali
kalau ada orang yang mengejek lukisan saya. Dikatakan, ''Kalau begini kamu
bisa ditangkap polisi. Orang melihat lukisanmu justru bertambah pusing.''
Akhirnya, dia memberikan masukan-masukan bagaimana melukis biar bisa.
Akhirnya, dia mengajak saya berdiskusi tentang hal ini. Saya lantas
berpikiran, lho kok bener ya? Akhirnya, saya mulai mengikuti
konsep-konsepnya.
Sekarang saya secara sadar sesadar sadarnya, saya harus ke sini
(postmodern). Tanpa didorong oleh dia pun, sekarang lukisan saya sudah kayak
ini.
Artinya, Anda menerima masukan-masukan dari orang luar, atau katakanlah
salah satunya adalah Putu Djaja? Apakah ini tidak bertentangan dengan sikap
berkesenian yang biasanya individualistis?
Ya, seniman itu kan tidak harus egois. Kita harus menerima di mana
kekurangan kita. Kalau kita sebagai seniman besar, kita harus siap menerima
kritik. Siap menerima masukan, karena seperti main catur kadang-kadang kita
yang main itu tidak melihat kalau kita disekak mat. Tapi, orang lain mampu,
dari luar, oh ini kuda maju dikit K.O. Padahal, yang main belum tentu. Sama
seperti orang main bola. Penonton lebih pintar, tapi kalau dia main belum
tentu bisa. Makanya, saya sadar bahwa kita sebagai seniman pemain, belum
tentu bisa secanggih orang luar. Mungkin perlu orang yang mengarahkan.
Soal peran manajer, seberapa besar sebenarnya menurut Anda itu penting bagi
pelukis?
Ya, sekarang ini manajer itu penting sekali. Kalau pelukis seharusnya ada
yang me-manage sekarang ini. Seniman disuruh memikirkan konsep, memikirkan
untuk publikasi dirinya, itu tidak mungkin, dia tidak punya waktu. Dia
melukis saja pusing setengah mati. Dia membikin karya itu kan tidak seperti
mencangkul di sawah. Keluar keringat, jadi lubang itu. Kalau seniman itu
memikirkan ke depannya bagaimana karya saya bisa menggigit, dan sebagainya.
Akhirnya, di sanalah diperlukan orang yang berada di belakangnya, orang yang
men-setting dia, sehingga dia menjadi seniman yang lebih tangguh. Makanya,
bagi saya sudah waktunya pelukis itu di-manage dengan baik.
* * *
KEMBALI pada apa yang Anda lakukan sekarang sebagai sebuah gerakan dalam
seni rupa Indonesia. Bahwasannya Anda mendeklarasikan diri dengan
''Deklarasi Akhir 2001''. Salah satu poin penting adalah bahwa Anda
mengatakan isme bukanlah kitab suci, terbuka peluang untuk dipertanyakan dan
bahkan didekonstruksi sekalipun. Apa maksudnya?
Karena yang membuat isme itu manusia, itu kita bisa koreksi. Kalau yang
namanya kitab suci itu adalah wahyu dari atas. Itu kebenarannya memang sudah
mutlak. Kita yakin. Kalau isme ini, semacam warna itu, itu semua manusia
yang bikin. Ini di sini saya dekonstruksi. Saya tertarik waktu
diskusi-diskusi seni itu, ya dari kubis, neoklasikisme, sampai impresionisme
ini, saya melihat suatu kejanggalan, di mana lukisan Monnet itu yang
berjudul ''Impression Sun Rise'' tahun 1874 itu dibilang itu penyinaran. Ya,
sun rise itu penyinaran. Di sana saya lihat, padahal dia melukis itu kan
tidak mungkin satu jam atau dua jam. Dia melukis langsung itu satu sampai
delapan jam. Di sana saya lihat kejanggalannya. Karena efek sinarnya itu
waktu satu sampai delapan jam saja, sinarnya sudah berpindah-pindah sesuai
waktu. Makanya, saya dekonstruksi. Saya jawab dengan lukisan ''Impression
Sing Lais'', ya dengan sinar yang tumpang tindih. Kalau pagi sinarnya ke
barat, sore ke timur, siang turun sesuai dengan sinar itu sendiri, gitu lho.
Terus intinya, Anda menyebut karya-karya Anda postmodernisme?
Ya, karena post-mo. Ya, namanya postmodern. Ya, karena sekarang zamannya
post-mo. Modern itu sudah tidak bisa menyelesaikan suatu masalah. Buktinya,
orang modern bilang dengan rasio bisa mengubah sesuatu, misalnya seperti
negara-negara maju, Amerika. Dengan rasio, dia bisa menyulap macam-macam. Ia
dikatakan sebagai militer dunia. Tapi, dia bisa dihancurkan dengan
irasional. Orang yang bunuh diri menabrak gedung WTC itu, bisa mengalahkan
Amerika. Padahal, dia itu negara modern, negara kapitalis.
Seperti sekarang, dokter-dokter ahli itu mengobati orang, kadang-kadang dia
kesulitan. Akhirnya, lari pada obat alternatif seperti pijat refleksi. Ada
orang kembali ke dukunlah, gitu. Itu orang sudah mulai berbalik ke belakang.
Bahwasannya zaman modern sudah tidak cocok lagi karena zaman post-mo
mengakui adanya pluralisme, di sini kata kuncinya ''dan'' -- misalnya,
wanita dan laki-laki sama. Laki main bola, wanita ada main bola. Lelaki
sekarang binaragawan, binaragawati juga ada. Presiden laki, presiden
perempuan ada. Petinju juga ada. Itu sudah menunjukkan zaman post-mo. Zaman
modern tidak, laki-laki dan perempuan lain. Makanya, di sana kuncinya modern
''atau''. Laki-laki atau perempuan, barat atau timur.
Kalau diaktualkan ke karya Anda itu, bisa diceritakan beberapa kasus contoh
karya yang bisa memperlihatkan teori Anda?
Ya, misalnya pada ''Mandi Susu'' itu juga saya tampilkan bagaimana kehidupan
orang zaman sekarang. Dengan mandi susu, dengan kendi, itu kan peradaban
masa lalu yang berlogokan cecak disandingkan dengan Coca-cola yang merupakan
simbol modern, dalam satu kesatuan sehingga dia menjadi satu kesatuan
lukisan yang utuh. Juga karya-karya saya yang berjudul ''Kosmopelitan'' di
mana ada orang berwajah merah dan biru, sementara di belakangnya ada patung
primitif yang menonton dua pasang sejoli yang seakan-akan berkata, "Lho
kehidupan modern kok gini ya?"
Namun, ada satu selentingan di luar bahwasannya sekarang Anda dekat dengan
Putu Djaja, kemudian, konsep-konsepnya banyak Anda serap. Ada yang menilai
Anda di bawah bayang-bayang Putu Djaja. Komentar Anda? Ya, saya kira nggak
ya. Sebab yang melukis saya, kecuali Pak Putu yang langsung melukis, dan
nama saya dipakai. Itu mungkin ya. Penulis, ya penulis. Kalau pelukis, ya
pelukis. Kalau saya memang jalan, ya jalan. Saya pelukis karena saya sadar,
saya memang tepat dengan situasi yang seperti ini. Ya, saya jalan terus.
Terserah orang menilai apa. Yang penting, saya yakini bahwa besok saya tidak
akan terbayang-bayangi seperti itu. Saya yakin. Karena kalau kita bekerja
keras dan berani bekerja sesuai dengan hati nurani kita, saya yakin itu akan
jadi.
Jadi ketika di atas kanvas, Anda total bermain?
Ketika di atas kanvas, saya total. Tidak ada bayangan apa pun. Apa yang
pernah saya alami, saya tuangkan dalam kanvas. Saya pernah masuk ke sini, ke
diskotek, saya bikin diskotek. Ya, itu kan kebebasan mutlak bagi seorang
seniman. Saya tidak pernah dikasi harus lukis gini, gini. Yang saya lukis
ini, yang saya alami sendiri. Ya, kalau saya ke sabungan ayam, saya bikin
tajen gitu lho.
Termasuk juga dalam komposisi dan warna-warna?
Ya. Karena zaman ini kan zaman post-mo, zaman konsumerisme, ya harus
ditandai dengan pesta warna. Zaman sekarang kan zaman pesta warna. Maka
lukisan saya, harus didukung dengan pesta warna. Karena zamannya sekarang,
zaman happy, gitu lho.
Kira-kira sampai kapan Anda akan melukis seperti ini?
Seperti yang saya bilang sebelumnya, melukis itu kan sesuai dengan tuntatan
zaman. Kalau zamannya memang berubah, ya kita harus berubah. Kalau kita
tetap gitu, padahal zamannya sudah lewat, ya sama saja, seperti yang saya
bilang sudah purnabhakti.
Berarti Anda juga nanti akan purnabhakti dulu untuk mulai reinkarnasi?
Nggak. Sesuai dengan zaman itu sendiri, kita kan tahu nanti arah zaman itu
kayak apa. Kita sebagai seniman punya kepekaan sendiri-sendiri walaupun
terkadang terjebak. Kalau lukisannya sudah laku terus keluar pikiran lain,
takut tidak laku. Kalau saya prinsipnya lain. Yang penting melukis sesuai
dengan hati, estetika, artistik yang kita pegang. Saya yakin, hidup bisa
jalan dengan lukisan.
Terakhir, apa yang Anda cari dari melukis ini -- prestise atau uang?
Ya... dua-duanya. Kalau kita punya prestise tapi nggak punya uang, mau
bilang apa. Uang itu perlu. Kalau melukis terus, sok nggak mau jual akhirnya
bangkrut. Beli kanvas saja tidak bisa bagaimana bisa menuangkan ekspresi.
Kita harus berpikir yang realistis. Kalau lukisan laku, sedikit tidaknya
berarti kita sudah dihargai orang. Dan yang terpenting bisa beli kanvas,
beli cat lagi untuk melukis. Begitu!
* Pewawancara:
Dwikora Putra
Wayan Sumatika
Deklarasi Wiradana Akhir 2001
1. Bahwa ''isme'' yang telah ada adalah bagian dari masa lalu yang
keberadaannya harus diakui dan layak dihormati dan kini telah
''Purnabhakti''.
2. Bahwa seni lukis adalah seni yang selalu hidup dan bergerak sesuai dengan
kebutuhan seniman dan tuntutan zaman.
3. Bahwa di era milenium ke-3 ini seni adalah global dan tidak
terkotak-lotak dalam diskriminasi.
4. Bahwa ''isme'' bukanlah kitab suci, terbuka peluang untuk dipertanyakan
dan bahkan didekonstruksi sekalipun.
|