http://www.galerisemarang.com
Bahasa Indonesia / scroll down for English version
LUPA JALAN PULANG
CHRIS DHARMAWAN
30 Nov, 2007 - 14 Dec, 2007

Pengantar galeri.
Hanya dalam hitungan bulan, dunia senirupa kontemporer Indonesia hiruk pikuk. Kejadian yang dipicu oleh melambungnya harga secara fenomenal beberapa karya seniman papan atas Indonesia di beberapa balai lelang akhir akhir ini , telah merubah banyak hal. Beberapa diantaranya sangat menarik untuk disimak.
- Seni rupa kontemporer Indonesia yang selama ini sulit mendapatkan porsi dalam pola
pengkoleksian , mendadak menjadi primadona. Harga karya I Nyoman Masriadi dan
Putu Sutawijaya sudah melampaui harga karya maestro Affandi dan Hendra Gunawan
misalnya.
- Ikut terdongkraknya harga karya beberapa seniman yang "dianggap" mewakili level
kedua dan ketiga dibawah top level Kelompok Jendela plus Putu Sutawijaya , Masriadi
dan Agus Suwage. Diikuti dengan perburuan karya karya seniman yang dianggap
mempunyai peluang mendapatkan keuntungan oleh para pembutuh, seperti kolektor
(atau yang mengaku sebagai kolektor),investor, art dealer (lebih afdol disebut
kolekdol), berbagai macam dan jenis institusi seni , baik lokal maupun regional dengan
trik trik bisnis yang sangat memikat. Bahkan sampai salah satu balai lelang lokal yang
ikut meramaikan , terjun langsung kekantong kantong seniman di Yogyakarta , main
borong, membawa truk untuk mengangkut karya menuju pelelangan.
Terhadap kejadian kejadian diatas, banyak kalangan berkomentar "gila!!",sebagian lagi "woow keren", sebagian lagi "hati-hati!!". Benar..Hati-hati!!. Mengapa ? Bagi para seniman tentu saja jangan sampai mempunyai anggapan bahwa pasar menjadi acuan utama melebihi yang lain dalam proses berkesenian. Bagaimanapun fundamental seorang seniman adalah sebuah portofolio yang baik dimana faktor pasar sebagai pelengkap yang mengikutinya secara otomatis. Bagi para pecinta seni, art dealer, maupun institusi seni , marilah kita menyikapi kondisi ini dengan arif dan bijaksana. Sesuatu yang berlebihan selalu akan membawa dampak efek samping. Jangan sampai panorama yang "seakan indah" nanti nantinya justru mendatangkan tragedi. Kondisi ini sebenarnya menyebabkan situasi yang cukup rumit, penuh pertentangan dan tegangan tegangan diantara komponen komponen infra struktur seni rupa. Masih jauh lebih banyak seniman seniman yang belum terimbas seolah menjadi penonton dan jangan sampai dibuat frustasi oleh situasi dan realitas yang terjadi , sementara seniman – seniman yang menjadi korban perburuan pasar, mudah mudahan menjadi lebih tegar dan matang dalam menyikapi fakta ini.
Paling tidak saya yakin Hayatudin dan Januri telah menyikapi situasi ini dengan santai dan ringan ringan saja. Seperti dalam karya karya mereka yang tampak indah, seolah menyembunyikan pesan yang cukup penting, Bagaikan sebuah isyarat untuk "tidak melupakan jalan pulang".
" Lupa jalan pulang ", seperti judul pada pameran ini , seolah mengingatkan pada para seniman tentang hakekat berkesenian. Melihat kembali bahwa portofolio serta fundamental jauh lebih penting ketimbang pasar. Bagi para pecinta seni "lupa jalan pulang" bisa berarti pentingnya memperdalam kemampuan apresiasi dan kecintaan terhadap karya seni adalah modal utama untuk mengimbangi usaha usaha pengkoleksian yang melulu berbasis pada investasi dan sekedar mencari keuntungan semata. Mudah mudahan momentum yang sangat baik ini bisa dimanfaatkan secara positif bagi perkembangan dunia seni rupa kita.
Terima kasih kepada Hayatudin dan Januri yang telah menyiapkan pameran ini dengan sangat baik, terima kasih pula kepada Suwarno Wisetrotomo dengan tulisannya yang sangat menarik , dan semua pihak yang telah membantu demi terselenggaranya kegiatan pameran ini.
Semarang , 10 November 2007
English version
Gallery Introduction
These last months, the Indonesian contemporary art world has been excited. This has something to do with the phenomenal soaring of the prices of the works by some of the Indonesian top painters at auction houses. Some points in that development are noteworthy.
Indonesian contemporary art hitherto hard to find good positions in art collection patterns has suddenly gained prominence. For instance some works by I Nyoman Masriadi and Putu Sutawijaya sold better than Affandis and Hendra Gunawans.
Works by painters regarded as the second and third levels after the top level consisting of Kelompok Jendela and Putu Sutawijaya, Masriadi, and Agus Suwage, also see increased prices. This is followed by the hunting for works by artists considered promising, in terms of profit making, by collectors (or those claiming as ones), investors, art dealers, as well as various art institutions both local and regional with their alluring business tricks. A local auction bureau even went straight to Yogyakarta, the prominent enclave of contemporary artists, picking up massive heaps of paintings to be auctioned.
In response to such development, many people exclaimed “gosh!!!”; some remarked “that’s damned good”, but there are others reminding “be careful!!” Yes..Be careful!! Why? For the artists’ part, naturally, be careful no to make market their ultimate reference in their artistic processes. Anyhow, what is fundamental for an artist is a good portfolio, which the factor of market automatically and complementarily follows. Art lovers, art dealers, art institutions, let us deal with this existent condition wisely. Any excessive thing will always bring side effects. We must keep this “apparently beautiful” panorama from turning to a tragedy. In fact, the present condition has introduced a complicated situation marked by a lot of conflicts and tensions among the components of our art infrastructure. The greater part of our artists has remained untouched by such development and they just have to watch the unfolding scene without being frustrated by it; as for those being hunted by market, let’s hope they can maturely deal with the phenomenon.
At least, I’m sure Hayatudin and Januri have remained cool in facing the situation. When we view their works, we could sense their implied message that is quite important. They offer us the gesture to keep from “losing the way home”.
"Losing the way home", the title of this exhibition, seems to remind artists of the essential nature of art and the artistic career, and of the much greater importance of portfolio and fundamentals compared to market consideration. To art lovers, "losing the way home" may remind of the importance of intensifying the capacity to appreciate and love works of art; in it lies the ultimate foundation to counter the practice of collecting works of art on the sole basis of capital investment and profit making. Let us hope the recent situation provides a good momentum for the positive development of our art.
I thank Hayatudin and Januri who have already given their best in preparing their works for this exhibition; I also thank Suwarno Wisetrotomo for his most interesting essay, as well as all parties that have helped to make this event possible.
Semarang , 10 November 2007
|