javafred.net

 
 

 
     r e a d i n g s

 

 

Source: Kompass, 6 Aug. 2007

Warna Hitam Pun Berbicara Banyak


Bicara dengan Muhammad Faisal (31) atau Iconk, pelukis kelahiran
Papua, Sabtu (4/8) petang, seperti bicara dengan orang muda yang penuh
energi. Omongannya penuh semangat. Ia menerangkan proses
melukisnya detail dan mantap di Galeri Tondi, tempatnya berpameran.
Energi yang tak tampak namun ada dalam semangatnya, terutama kala ia bicara, tergambar pula dalam lukisannya. Kanvas-kanvas besar lukisannya dipenuhi garis-garis atau bentuk-bentuk abstrak yang menyala dalam latar gelap. "Saya sangat menyukai melukis, di situlahlah jiwa saya," katanya.

Lukisannya banyak berlatar warna hitam. Warna-warna cerah tak
berbentuk menari-nari di atas warna hitam itu. Satu yang menarik, Iconk menggunakan lapisan karet di atas kanvasnya untuk melukis. Kanvas ia buat sendiri. Kain terpal yang ia gunakan dilapisi dengan pelapis genteng bocor, semen putih, dan lem. Dengan materi itu, kanvas tidak akan mengerut saat dilapis cairan karet. Karet yang mengering ia setrika hingga karetnya menggembung. Warna-warna cerah kemudian disapukan dalam media itu.

Kelihatannya sederhana, namun terlihat butuh kesabaran dalam proses ini."Banyak karya lukis seniman besar, seperti Sudjoyono atau Indra
Gunawan, yang catnya retak-retak. Tetapi kalau menggunakan karet,
kecemasan akan rusaknya karya itu tidak ada. Kanvas digulung pun tak masalah. Lukisan mau dipegang-pegang juga boleh," kata Inconk.
Lukisan memang menggambarkan jiwa seseorang. Salah satu lukisannya yang berjudul Manarai mengungkapkan itu. Manarai berasal dari bahasa Fak-fak, daerah kelahirannya, yang berarti mana perahuku. Kata itu bisa diterjemahkan lagi dalam bahasa Indonesia sebagai mana jiwaku. Lukisan akrilik di atas kanvas yang dilapisi karet itu merupakan permenungan Iconk atas dunia seni yang ia geluti. Dan, ia menemukan jiwanya di situ.

Lukisan Manarai menggambarkan bentuk abstrak garis warna-warni yang menyerupai perahu. Di atasnya warna-warna terang melintang di atas bentuk menyerupai perahu itu. "Ini seperti perjalanan menembus garis warna-warni. Hidup juga berlapis-lapis seperti garis-garis itu," tutur Iconk. Hanya dirinya seorang dalam keluarga besarnya yang menjadi seniman. Saudaranya menjadi aparat atau pemuka agama di Papua. Adiknya malah menjadi kontraktor jalan yang membuka jalan ke pedalaman Papua. Kehidupan seninya harus diakui dihidupi dan berakar dari Papua. "Saya suka warna hitam," kata pria yang memang berkulit hitam dan berambut keriting khas Papua itu.

Sejatinya, kehitamannya bukan dari darah Papua tulen. Di tubuhnya
mengalir darah Arab, Madura, dan Bugis dari moyangnya yang tinggal di kawasan pesisir. Karena itu, tak mengherankan kalau bicaranya blakblakan. Lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Bandung kelahiran 13 Maret 1976 itu cukup produktif. Lebih dari 30 pameran sudah ia lakoni sejak tahun 1996. Satu lagi kekhasannya. Ia suka menggunakan warna putih kanvas. Kanvas yang sudah ia siram dengan cat gelap ia putihkan lagi dengan air. Warna putih ini justru yang menimbulkan bentuk baru. Hitam hanya menjadi latar. Di tangannya kehitaman bisa bicara banyak. Ia menggelar pameran bertema Black Evo, sebuah perubahan, pertumbuhan dan perkembangan.
(wsi)

 

Profile and works by Iconk on javafred